Pengertian Multitasking untuk Bisnis?
Istilah multitasking pertama kali Saya dengan pada aplikasi windows 3.1x. Kemudian baru sewaktu di Universitas, Saya mendapati isitilah ini telah berkembang menjadi sebuah istilah bisnis tentang seseorang yang bisa melakukan tugas lebih dari satu.
Saya agak cukup yakin istilah “Multitasking” pada bisnis agak bias. Kenyataannya PC dahulu umumnya hanya memiliki satu buah prosessor sehingga tidak memungkinkan untuk mengerjakan dua tugas sekaligus pada satu saat. Sistem operasi windows mengakalinya dengan cara switching antar proses dengan cepat tetapi tetap saja hanya satu proses yang dikerjakan pada satu saat.
Hal yang sama berlaku juga untuk manusia, dengan badan dan kepala yang hanya satu, sulit membayangkan manusia bisa mengerjakan dua buah pekerjaan yang banyak memerlukan pikiran pada saat yang sama. Kemampuan manusia dalam switching pekerjaan tidak seefisien komputer karena mereka memerlukan waktu untuk membaca, mengingat, dan memahami kembali pekerjaan barunya (meskipun itu telah mereka kerjakan sebelumnya). Hal inilah yang menyebabkan adanya Switching Cost yaitu lama waktu yang dibutuhkan manusia saat berpindah tugas sampai ke tingkatan produktif lagi. Misalkan programmer A mengerjakan proyek 1 dan proyek 2 bersamaan. Saat telah setengah mengerjakan proyek 1, dia diperintahkan untuk berpindah ke proyek 2. Dua jam pertama dihabiskan untuk memahami kembali arsitektur coding dari proyek 2. Dua jam inilah yang disebut Switching Cost.
Tom DeMarco, dalam bukunya Slack (Broadway Books, 2002), menyatakan minimum 15% pinalty terjadi saat task switching (pada proyek IT umumnya). Angka 15% ini dapat meningkat bila proyek sangat kompleks.
Multitasking pada Bisnis
Multitasker adalah isitilah dari orang yang mampu mengerjakan lebih dari satu tugas. Perusahaan umumnya berupaya untuk mendapatkan dan memperkerjakan orang-orang seperti ini. Tetapi Apakah mereka menyadari Multitasker ini juga memerlukan waktu untuk membiasakan diri saat berpindah proyek? Multitasker harus mempelajari lagi arsitektur proyek, meneliti dependencies, membaca ulang business logic, dan lainnya.
Saya pernah membaca buku Peter Drucker berjudul “The Effective Executive“, buku yang sangat baik menurut Saya. Dalam tulisannya Peter mengemukakan pentingnya menguasai lebih dari satu ilmu dan umumnya CEO adalah orang yang mampu mengerjakan tugas lebih dari satu. Hanya saja disana lebih disebut bahwa CEO menyelesaikan dua tugas dalam satu bulan, bukan mengerjakan dua tugas bersamaan.
Mengerjakan dua tugas secara bersamaan dimungkinkan bila salah satu tugas dapat diotomatisasikan dan tidak memerlukan intervensi dari user. Contohnya memproses pembayaran pajak secara elektronik, user mungkin hanya perlu menekan satu tombol dan menunggu hasilnya. Perhitungan pajak mungkin membutuhkan waktu lebih dari satu jam bergantung jumlah data yang dihitung. Selama menunggu, user dapat mengerjakan yang lain.
Saya sendiri lebih menyukai kata mengartikan kata Multitasking pada aktivitas “membuat prioritas” dan “alokasi sumber daya” (waktu, uang, tenaga manusia, dll). Saya sendiri kurang yakin mampu mengerjakan dua tugas kompleks pada saat bersamaan. Tetapi Saya cukup yakin dengan membuat prioritas kerja yang baik dan alokasi sumber daya yang tepat, efisiensi pengerjaan tugas dapat diperoleh. Umumnya Saya berfokus pada sebuah tugas hingga titik dimana pekerjaan selesai atau tidak dapat dilanjutkan karena menunggu suatu input. Saat idle inilah Saya manfaatkan untuk berpindah ke tugas yang lain sambil menunggu tugas pertama dapat dilanjutkan lagi.
Biaya Switching Cost
Berikut ini ada dua buah proyek dengan profile sebagai berikut :
|
Nama Proyek
|
Lama Pengerjaan
|
Expired
|
|
Proyek A
Proyek B
|
4 Bulan
4 Bulan
|
31 Des 2008
31 Des 2008
|
Setiap proyek mempunyai awal pengerjaan paling awal 1 Januari 2008. Proyek mau tidak mau harus diselesaikan atau dihentikan pada tanggal 31 Desember 2008 karena diasumsikan terjadi perubahan operasi bisnis sehingga proyek harus dibuat ulang. Contoh proyek seperti ini adalah proyek marketing dimana pola marketing selalu berubah dan proyek penggajian / benefit jika perusahaan sering mengganti-ganti perhitungan benefitnya untuk menyesuaikan dengan persaingan.
Bila tidak terjadi task switching, alur normal dari proyek adalah sebagai berikut:

Disini terlihat Proyek A akan menikmati masa produktif dari bulan 5-12 sedangkan proyek B menikmati masa produktif dari bulan 9-12.
Bila user yang mengerjakan proyek mengalami switching yang sangat sering (dalam 1 hari proyek A dan B dikerjakan secara pararel) maka umumnya untuk 8 jam kerja perhari, 4 jam akan dialokasikan ke proyek A dan 4 jam sisanya dialokasikan ke proyek B. Tetapi switching cost terjadi dalam kasus ini sehingga diagramnya berubah menjadi sebagai berikut:

Masing-masing proyek memerlukan waktu 4 bulan tapi karena dikerjakan setengah-setengah maka waktu penyelesaian proyek bertambah, seharusnya selesai pada bulan 8 tetapi karena terjadi switching cost, maka proyek baru dapat selesai keduanya pada bulan 9 (asumsi total switching cost adalah 1 bulan). Hal ini menyebabkan masing-masing proyek hanya menikmati masa produktif 3 bulan sebelum harus diubah lagi. Tentu saja bila kita kaitkan dengan finance, ROI (Return on Invesment) proyek menurun.
Ok memang contoh diatas mungkin kurang realistis tetapi yang Saya tekankan adalah perlunya perhitungan cermat dalam hal Switching proyek pada karyawan. Sering kali perusahaan lupa pada biaya ini.
Mengorganisasikan Kerja
Dibombardir dengan tugas-tugas? Tentu saja semua orang pernah mengalaminya mulai dari siswa, mahasiswa, ataupun karyawan. Salah satu orang yang multitasking-nya hebat mungkin adalah ibu kita sendiri. Mereka memasak, membersihkan rumah, mencuci baju, menjadi bayi, mengsterilkan makanan/minuman bayi, bahkan membayar tagihan umum seperti listrik. Belum lagi bila Ibu kita adalah wanita karir, tentu saja organisasi tugas menjadi semakin rumit. Bagaimana dia (ibu) mengorganisasikan tugasnya? Tercatat atau tidak, Ibu umumnya telah mempunyai rencana harian tugasnya. Pagi hari memasak, siang membersihkan rumah, malam mencuci, dan sebagainya (belum lagi bicara tentang tugas kantornya pada wanita karir). Resource Management (Time Management) adalah intinya sehingga dia seakan-akan bisa multitasking.
Ada beberapa software yang membantu kita mengorganisasikan kerja seperti calendar atau gantt chart. Berikut ini beberapa screen shot software tersebut:
Mozilla Sunbird menyediakan fasilitas kalender sebagai task reminder ataupun sekedar pencatatan. Outlook dan Lotus Notes juga menyediakan fasilitas kalender. Gambar dibawah adalah portable Mozilla Sun Bird yang bisa diperoleh gratis di http://portableapps.com

OpenProg (http://www.projity.com) adalah sejenis project management yang gratis dan lumayan baik. Sayangnya diagram yang didapat dari aplikasi ini tidak bisa dieksport ke aplikasi lain bahkan sebagai gambar pun (harus di screen shot manual).

Happy “Multitasking”
Yonscun